Selasa, 30 April 2013

Filosofi Motif Tenun Minangkabau


Tak hanya batik yang setiap motifnya punya makna berbeda. Tenun dari Sumatera Barat atau songket dengan kekayaan motifnya ternyata juga memiliki arti dan nilai kebersamaan tersendiri. "Keterampilan menenun bagi masyarakat Indonesia merupakan sebuah warisan yang perlu dipertahankan dan disosialisasikan, karena ini merupakan kekuatan budaya, kreativitas, dan seni dalam kehidupan bermasyarakat," ungkap perancang Samuel Wattimena, saat pagelaran busana "Pagelaran Tenun Unggan Sumatera Barat Kabupaten Sijunjung" .

Dalam perkembangannya terjadi proses akulturasi budaya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama sejak masuknya pengaruh Islam ke kota tersebut. Hal ini berpengaruh pada motif-motif tenun yang mengadaptasi motif-motif alam dan ragam hias dari Timur Tengah seperti Arab, Mesir, dan Siria. Sejak dahulu, unsur adat ini identik dengan alam karena alam dianggap sebagai sumber pokok dan penting bagi umat manusia yang telah memengaruhi perajin mengolah motif pada kain tenun songket ini.

Kenyataan ini ternyata membentuk suatu filosofi dalam berbagai motif kain tenun Sumatera Barat. Contohnya adalah sebagai berikut:

1. Pucuk rabuang. Motif ini memiliki makna bahwa hidup seseorang harus berguna sepanjang waktu. Motif ini bercerita bahwa hidup harus mencontoh falsafah bambu, dimana bambu selalu berguna sejak muda (rebung) untuk dimakan, dan saat tua (bambu) sebagai lantai rumah atau bahan bangunan. Motif rebung ini juga mengibaratkan bahwa tanaman ini berguna sepanjang hidupnya dan semua bagiannya memiliki banyak kegunaan.

2. Itiak pulang patang. Motif ini memiliki makna bahwa hidup dalam masyarakat haruslah seiya sekata, seiring sejalan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Motif ini ingin mengajak masyarakat untuk bisa hidup bersama dan menggambarkan kerukunan masyarakat Minangkabau yang hidup dalam tatanan kegotongroyongan yang solid.

3. Kaluak paku. Motif ini memiliki makna bahwa kita sebagai manusia haruslah mawas diri sejak kecil, dan perlu belajar sejak dini mulai dari keluarga. Pendidikan dalam keluarga menjadi bekal utama untuk menjalankan kehidupan di masyarakat. Setelah dewasa kita harus bergaul ke tengah masyarakat, sehingga bekal hidup dari keluarga bisa menjadikan diri lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh hal negatif. Uniknya, motif ini juga memiliki makna lainnya, yaitu seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat yang ada disekitarnya.

4. Sajamba makan. Motif ini digunakan sebagai lambang kebersamaan dalam menikmati keberhasilan.

5. Tirai. seperti yang diketahui tirai merupakan hiasan dari kain yang diletakkan pada dinding, pintu, dan lainnya, yang berfungsi untuk menambah keindahan dan suasana yang semarak. Motif ini menggambarkan keindahan, lambang kemewahan dalam upacara adat Minangkabau.

6. Saluak laka. Motif ini memiliki memiliki arti lambang kekerabatan. Hal ini akan memberi makna dalam kehidupan masyarakat, bahwa kekuatan akan terjalin dari kesatuan yang saling terikat sehingga akan terwujud kekuatan bersama dalam menghadapi bermacam masalah.
7. Unggan seribu bukit. Ini merupakan motif terbaru yang diprakarsai oleh Samuel Wattimena yang bekerjasama dengan perajin tenun di Unggan, dan Dekranasda Sumatera Barat. Kerajinan tenun unggan ini merupakan perpaduan teknik bertenun dari pandai sikek dengan silungkang. Motif ini memiliki arti kekompakan dalam kerjasama, kegigihan dalam berusaha, dan sifat ingin maju seseorang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar