Sabtu, 11 Februari 2012

Tenun Ikat Lamaholot yang Bernilai Adat


Tenun ikat punya nilai tinggi bagi perempuan di desa Lamaau, kecamatan Ile Ape Timur, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan menenun rutin dilakukan turun-temurun. Biasanya perempuan Lembata menenun saat musim kemarau. Pasalnya, proses pembuatan kain tenun memerlukan pengeringan alami dari sinar matahari agar hasil akhirnya lebih maksimal.

Kain tenun ikat di desa Lamaau punya nilai adat dan tradisi. Kain adat Lamaholot, begitu masyarakat lokal menyebutnya. Kain adat Lamaholot memiliki warna khas merah marun. Motif gambar pada kain tenun ikat ini menyerupai bentuk belah ketupat.

"Untuk membuat satu buah kain tenun ikat dari awal, dari membuat benang hingga kain utuh, butuh waktu maksimal 15 tahun. Kain adat dibuat dari akar mengkudu, sehingga warna aslinya pun berasal dari akar mengkudu. Akar direndam dua hari, lalu dijemur. Karenanya saat musim hujan proses pembuatan benang tenun tidak bisa dilakukan sebab warna tidak menempel, tidak bertahan lama," jelas Halima Perada (48), perajin tenun.

Pembuatan kain tenun adat Lamaholot dari akar mengkudu membutuhkan waktu belasan tahun. Kegiatan menenun benang dari akar mengkudu sudah termasuk di dalamnya, dan biasanya membutuhkan waktu satu bulan.

Lain lagi untuk proses pembuatan tenun dari benang toko. Perajin biasanya membeli benang dari toko untuk membuat selendang. Proses menenun benang toko untuk membuat satu selendang hanya butuh waktu satu minggu saja. "Biasanya selendang tenun kami jual di pasar Lewoleba," lanjut Halima.

Perbedaan cara pembuatan kain tenun ikat di Lamaau, Lembata, inilah yang membedakan nilai sebuah kain tenun. Ibu yang membuat kain tenun adat Lamaholot biasanya akan menyimpan kain buatannya untuk anak perempuan. Pasalnya, tradisi adat pernikahan di Lamaau mengharuskan calon mempelai perempuan untuk memberikan kain kepada calon mempelai laki-laki. Kain adat juga tak dijual bebas. Biasanya, kata Halima, kain tenun dijual di desa (untuk kalangan tersendiri) karena memiliki nilai bagi masyarakat setempat. Ketika kain dijual di luar desa, nilai adatnya sudah tak ada, tambah Halima.

"Saat akan menikah, laki-laki memberikan satu gading gajah sebagai mas kawin. Sedangkan pihak perempuan memberikan laki-laki kain adat Lamalohot," jelas Halima.
Nilai budaya tradisi inilah yang juga membuat kain adat Lamaholot bernilai dan dibanderol dengan harga tinggi. Kain tenun ikat, adat Lamaholot, bernilai Rp 15 juta. Sedangkan untuk tenun ikat model selendang, perajin di Lamaau biasanya menjualnya seharga sekitar Rp 50.000 - Rp 100.000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar