Kamis, 12 Juli 2012

Bisnis Sarung Tenun Ikat, Produk Menggoda Hingga Mancanegara

Krisis ekonomi yang saat ini terjadi, sangat memukul sebagian besar pengusaha tekstil. Dampaknya selain banyak perusahaan yang harus siap-siap gulung tikar atau mengurangi produksi dan jumlah karyawan yang dipekerjakan.

Kondisi tersebut ditambah pemberlakuan terhadap produk tekstil asal Indonesia di negara-negara maju. Sehingga mengurangi omzet penjualan, yang berakibat suramnya usaha di bidang itu.

Selain itu, juga muncul kasus-kasus yang kian memperburuk usaha tersebut. Sebagai contoh, kasus kebakaran Pasar Tanah Abang, beberapa waktu lalu. Dampaknya sangat berpengaruh terhadap pengusaha garmen. Sehingga daerah yang selama ini banyak menyuplai produk tekstil itu, merasa terpukul karena pasarnya telah rusak akibat kasus kebakaran yang tidak diduga sebelumnya.

Kasus-kasus seperti itu, kian menambah bayang-bayang suram dan tentu terasa menyakitkan bagi sebagian besar pekerja yang sangat menggantungkan masa depannya di sektor tersebut. Mau banting stir ke arah pekerjaan lain, modal keterampilannya sangat kurang. Sehingga selalu kalah dalam persaingan di pasar kerja.

Melihat kondisi seperti itu, menurut Direktur Utama PT Asaputex Jaya Trading and Co, Jamaludin Ali Alkatiri (39), pengusaha harus pandai-pandai mencari peluang usaha yang tepat dan tahan banting.


Usaha yang tepat dan tahan banting, kata pengusaha sarung tenun ikat asal Kota Tegal itu, adalah usaha yang tidak mudah goyah oleh terpaan krisis ekonomi yang berkepanjangan dan pasarnya sangat terbuka lebar baik di dalam maupun di luar negeri. "Bila perlu temukan pasar yang bebas dan tidak dibatasi dengan kuota," papar suami Rachmah Ratu (28) yang dikaruniai dua putri yang masih belia, Riezca (11) dan Sabrina (9).


Dia akui, untuk menemukan usaha seperti itu memang tidak mudah. Sebagai contoh, dia yang kini menggeluti usaha ekspor sarung tenun ikat dengan merek Reizca, Pohon Korma, Rutob, Botol Kumbang dan Al-Hayat, awalnya usaha itu digeluti secara tekun secara perorangan dan berlangsung sudah puluhan tahun.


Sarung tenun ikat yang kini sudah dikenal di kawasan Afrika dan Timur Tengah, atau negara-negara nonkuota atas barang produksinya, awalnya digeluti oleh ayahnya Ali Salim Alkatiri sejak 1947 dengan perusahaan bernama PT ASA yang merupakan singkatan nama tersebut. Menginjak dewasa, dia ikut menawarkan sarung itu dari pintu, sampai akhirnya mendirikan PT Asaputex Nusantara yang kini berkantor di Jl Jalak 124 Kota Tegal.


Perusahaan yang berdiri mulai 15 Januari 1986 ternyata terus berkembang pesat. Bahkan pemasarannya merambah mancanegara seperti kawasan Afrika dan Timur Tengah. Negara-negara itu terus mendesak agar dipasok produk tekstil jenis tersebut.


Namun dengan prinsip geguyuban dalam berusaha yang dikedepankan, membuat dirinya tidak repot-repot untuk memenuhi permintaan pasar yang terbuka luas. Kebersamaan dalam berusaha yang dipegang, akhirnya menjadi penolong untuk terus melanggengkan usahanya.


Yakni, dengan membangun basis ekonomi masyarakat bawah untuk mengikatnya menjadi kekuatan besar. Sejumlah sentra-sentra produksi sarung tenun ikat yang tersebar di Kota/Kabupaten Tegal dan Pemalang diberi modal untuk mengerjakan pesanan dalam partai besar.


"Kita kasih modal bahan baku, benang, pewarna dan lain-lain yang sesuai dengan standar ekspor. Karena 80% produk kita arahnya adalah ekspor," papar Jamaludin. Mitra binaan yang tersebar di tiga daerah itu ada 108 buah, dengan jumlah tenaga kerja mencapai lebih dari 6.000 orang.


Jumlah tenaga kerja sebanyak itu rata-rata mengantongi penghasilan setiap bulan di atas Rp 500 ribu. Sedangkan kini setelah usahanya berhasil merambah mancanegara, dia mendirikan PT Asaputex Jaya Trading and Co di Jl Gadjah Mada No 80 Kota Tegal yang akan melayani ekspor pemasaran produksi sarung-sarung di atas.


Jumlah karyawannya baik di PT Asaputex Nusantara maupun di PT Asaputex Jaya Trading and Co, mencapai hampir 2.000 orang. Dengan penghasilan rata-rata mencapai Rp 750 ribu/bulan hingga Rp 4,5 juta.


Keberhasilannya membangun kebersamaan dalam berusaha dengan merekrut tenaga kerja dalam jumlah ribuan orang, membuat pemerintah pusat kemudian memberikan sejumlah penghargaan. Antara lain, Upakarti pada 1991 dari Presiden, Byasna Bhakti Upapradana tahun 1990 dari Gubernur Jateng, penghargaan dari Wali Kota Tegal pada 1991 dan 1994, penghargaan dari Dekranas Pusat pada 1991 dan Penghargaan dari API dan Masyarakat Tekstil RI pada 1992.


Deretan panjang penghargaan yang diraih pria kelahiran Kota Tegal 29 Maret 1964 itu sangat panjang untuk disebut. Bahkan hanya penghargaan tertentu saja yang dipajang di ruang kerjanya yang sangat sederhana, rapi dan bersih. "Bagi saya, kalau banyak warga masyarakat yang terlibat dalam pembuatan sarung tenun ikat, tentu membuat ekspor ke mancanegara bertambah besar. Ekspor sarung tenun ikat di berbagai negara tidak dibatasi dan itulah yang membuat usaha di bidang ini eksis di tengah krisis pertekstilan nasional," paparnya.


Sementara itu, sebagian besar perajin sarung tradisional tenun ikat khas Kota Kediri, Jawa Timur, kini kebanjiran order. Maklum Lebaran sudah di depan mata. Permintaan yang datang dari berbagai kota di Indonesia, terus meningkat hingga 30 persen.


Hal itu diakui Siti Ruqayah, salah satu perajin sarung tenun ikat asal Kelurahan Bandarkidul, Kota Kediri. Menurut Siti, sejak Juli lalu, permintaan sarung tradisional tenun ikat, meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Jika sebelumnya permintaan sarung hanya 500 potong sebulan, kini naik mencapai 650 potong lebih. Untuk memenuhi permintaan pasar, Siti harus menambah jumlah karyawan dari 10 orang menjadi 15 orang.


Selain permintaan kain untuk bahan sarung, Bandarkidul juga memroduksi kain untuk bahan pakaian. Untuk satu potong kain sarung dijual seharga Rp125 ribu. Sedangkan kain katun untuk pakaian dijual seharga Rp42 ribu per-meter. Sementara itu, kain semi sutra dijual Rp72 ribu per-meter dan kain sutra seharga Rp100 ribu per-meter.


Kerajinan kain tenun ikat yang merupakan usaha turun temurun sejak zaman penjajahan Jepang itu banyak digemari pembeli dari Kota Malang, Nganjuk, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan Palembang. Tak hanya lokal. Permintaan dari mancanegara pun tak kalah banyakanya. Saat ini baru Singapura dan Malaysia yang acap meminta.


Ada pula pemilik Pandan Sari yang mulai menggeluti bisnis kain tenunikat sejak 2 Maret 1989. Awalnya hanya memroduksi baju dan busana muslim. Namun kemudian berkembang dengan tambahan produk interior.


Produk interiornya kecil-kecil namun beragam. Misalnya, sarung bantal, taplak meja, tas, bed cover dan produk-produk sejenisnya. Kadang ada juga pelanggan yang memesan khusus hiasan untuk sofa. Semua benda itu terbuat dari kain tenun ikat.


Menurut Adistya Gumilang Ramadhan, salah satu pemilik Pandan Sari, tenun ikat banyak diminati konsumen karena dianggap memiliki chemistry khusus dibadingkan jenis kain yang lain. Warnanya yang natural jika dipasangkan untuk interior ruangan membuat suasana menjadi hangat dan nyaman. "Mungkin cara pembuatannya yang manual (hand made) menjadikannya berbeda," lanjutnya.


Menurut Adis, panggilan karib Adistya Gumilang, selama ini kelebihan kain tenun Pandan Sari lebih dikenal di luar negeri. Mulai Jepang, Belgia, Amerika, Australia, hingga Arab Saudi. Hebatnya, menurut Adis, para pelanggan asing itu tak pernah pindah ke lain hati. "Bertahun-tahun pelanggan dari Jepang tetap setia terhadap produk saya," katanya.


Keberhasilan manajemen Pandan Sari merangkul pasar mancanegara dirasa sebagai keberhasilan yang luar biasa bagi Adis. Sebab, sampai saat ini Pandaan belum dikenal sebagai daerah khas penghasil tenun ikat. Adis menyebutkan selama ini yang paling terkenal adalah tenun ikat NTT, Sumbawa, Bali, dan Lombok.


Sebetulnya semua tenun ikat dikerjakan dengan teknik yang hampir sama. Yang membedakan adalah warna-warnanya yang khas di masing-masing daerah.


Jika anda suka dengan warna ngejreng beli saja tenun ikat asal Timor. Sebaliknya, warna-warna kalem bisa ditemui di tenunan ikat Rote dan Ende. Kedua daerah ini memiliki warna dasar yang sama. Yakni hitam dan putih. Tapi, Rote warna tenunnya dominan hitam dan putih saja, sedangkan Ende ada sedikit imbuhan warna cerah seperti biru dan oranye.


Tenun ikat Bali condong pada paduan warna dan motif. Selain itu, tenun ikat Pulau Dewata itu kental dengan unsur religi. Sebab di sana kain tenun ikat sering dipergunakan untuk upacara keagamaan.


Sementara itu, tenun ikat Pandan Sari Pandaan punya ciri khas warna lebih bervariatif. Untuk kiriman ke Jepang warna dominan putih dipadu warna-warna lembut seperti coklat, krem, dan biru tua. Seminggu sekali Adis harus memenuhi pesanan sekitar 100 meter kain tenunan ke Jepang. Menurutnya, kain-kain itu di Jepang digunakan untuk interior ruangan dan sandal.


Sementara untuk pelanggan dari Arab Saudi, jenis yang digemari adalah sarung tenun sutera. Per minggu dia harus mengirimkan 45 lembar sarung. Untuk negara lainnya pemesanan tidak secara rutin, tapi insidental. Namun sekali pesan biasanya dalam jumlah yang besar.


Menurut Adis, keuntungan dari usaha tenun ikat sebenarnya tidak banyak. Karena disisihkan juga untuk pembelian bahan baku dan jasa tenaga kerjanya. Bahan baku miliknya terdiri dari kain sutera 100 persen dan 50 persen. Selain itu juga kain berbahan katun. Keduanya didatangkan langsung dari China dan India.


Untuk keperluan interior, pelanggan Pandan Sari lebih cenderung memilih bahan katun. Sementara untuk kepentingan berbusana, jenis sutera lebih disukai. Sebab, dalam berbusana orang mementingkan prestige.


Di luar keperluan belanja bahan, keuntungan penjualan juga disisihkan untuk pembuatan alat tenun bukan mesin. Yakni alat tenun dari kayu dan dioperasikan secara tradisional.


Jika ditotal semuanya, keuntungan bersih yang didapatkan pengusaha tenun ikat rata-rata di bawah Rp 5 juta untuk setiap pengiriman. Kini, Adis berusaha keras mencari pasar baru untuk mendongkrak penjualannya. Selama ini Adis terkendala keterbatasan sumberdaya tenaga kerja dan mesin.Akibatnya sejumlah pesanan konsumen tak bisa terpenuhi.


Paling tidak dalam sehari per mesin sanggup membuat satu seperempat sarung. Total ada lima sarung. "Iya kalau yang pesan satu klien saja waktu itu. Bertambah satu klien yang memesan sarung saja kemungkinan kami akan kewalahan," ujarnya.


Meskipun pengusaha lainnya ribut mengantispasi masuknya barang buatan luar ke dalam negeri, Pandan Sari justru tidak terpengaruh. Dia yakin dengan perdagangan bebas ini akan memperlebar jangkauannya. Adis yakin produk hand made bercirikan budaya negara pasarnya tidak akan habis. Karena produk adat akan tetap diminati sampai kapan pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar